Selasa, 07 Mei 2013

Permainan Tradisional Gatheng Sebagai Metode Pembelajaran


PERMAINAN TRADISIONAL GATHENG
SEBAGAI METODE PEMBELAJARAN PENGURANGAN SEKOLAH DASAR

Wikan Budiarti
NIM 29 015 149
Mahasiswa PGSD UST Yogyakarta


Abstrak
          Matematika adalah ilmu universal yang mendasari perkembangan teknologi modern, namun banyak siswa mengeluh karena pembelajaran Matematika karena menganngap Matematika itu sulit dan menakutkan, termasuk pada pembelajaran pengurangan. Guru dapat mengubah metode ceramah pada pembelajaran penguranangan dengan metode permainan. Salah satu permainan yang dapat dilakukan untuk pembelajaran pengurangan adalah permainan gatheng. Gatheng adalah permainan tradisional yang menggunakan alat permainan berupa batu kerikil. Selama permainan berlangsusng, siswa secara tidak langsung telah belajar konsep pengurangan. Guru mengawasi jalannya permainan dan komunikatif terhadap siswa. Permainan tradisional gatheng ini juga sesuai dengan gaya belajar semua siswa, baik gaya belajar auditori, visual, dan kinestetik. Aplikasi permainan gatheng kedalam metode pembelajaran pengurangan, diharapkan siswa tidak mengalami kebosanan dalam belajar pengurangan dan mendapatkan pembelajaran dengan proses yang menyenangkan.
Kata Kunci : Permainan Tradisional Gatheng, Metode Pembelajaran, Pengurangan SD

A.  Pendahuluan
Pada era sekarang ini, Indonesia telah memasuki era pembangunan di segala bidang tak terkecuali pembangunan di bidang pendidikan. Menurut Masrukan, salah satu fokus utama pembangunan di bidang pendidikan adalah mengembangkan ilmu-ilmu dasar basic science. Ilmu-ilmu dasar tersebut wajib dikuasai oleh peserta didik agar dapat menguasai ilmu terapan. Di samping itu, khususnya di negara maju, ilmu dasar dijadikan tolak ukur keberhasilan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga negara-negara maju memiliki perhatian lebih pada ilmu-ilmu dasar. Untuk dapat bersaing dengan negara lain, Indonesia sangat memerlukan kualitas hasil pendidikan, termasuk penguasaan IPTEK yang semakin baik, ini berarti kebutuhan penguasaan ilmu-ilmu dasar di Indonesia sangat mendesak.
Matematika adalah bagian dari Ilmu dasar selain Sains dan Bahasa. Matematika adalah ilmu universal yang mendasari perkembangan teknologi modern, dan mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin ilmu dan memajukan daya pikir manusia. Matematika perlu diberikan kepada peserta didik dimulai dari Sekolah Dasar untuk membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir kritis, logis, sistematis, analitis, dan kreatif, serta kemampuan bekerjasama. Namun, Matematika juga menjadi perhatian umum bagi pihak-pihak terkait, bukan hanya karena matematika adalah bagian dari ilmu dasar, tapi karena pendidikan Matematika di tingkat Sekolah Dasar memprihatinkan. Banyak siswa Sekolah Dasar yang menganggap Matematika adalah  pelajaran yang sulit, menakutkan, bahkan tidak jarang siswa mogok sekolah karena matematika. Selama ini, matematika dan bahasa Inggris merupakan pelajaran penting bagi setiap sekolah. Namun penyajian kedua mata pelajaran tersebut seringkali membuat anak kesulitan (Kompas Klasika. 20 Januari 2013). Menurut Pusat Kurikulum Balitbang Depdiknas, hal ini disebabkan karena Matematika merupakan suatu bahan kajian yang memiliki objek abstrak dan dibangun melalui proses penalaran deduktif, yaitu kebenaran suatu konsep diperoleh sebagai akibat logis dari kebenaran sebelumnya sudah diterima, sehingga keterkaitan antar konsep dalam Matematika bersifat sangat kuat dan jelas. Namun, menurut sumber yang sama dijelaskan bahwa agar Matematika mudah dimengerti oleh siswa, proses penalaran induktif dapat dilakukan pada awal pembelajaran dan kemudian dilanjutkan dengan proses penalaran deduktif untuk menguatkan pemahaman yang sudah dimiliki siswa.
Saat ini, pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar meliputi bilangan, geometri dan pengukuran, dan pengolahan data. Sedangkan konsep dasar pembelajaran Matematika adalah penambahan, pengurangan, perkalian dan pembagian. Pengurangan adalah salah satu konsep dasar matematika dan merupakan dasar dari pembagian matematika. Pengurangan juga bermanfaat dalam kehidupan siswa sehari-hari antara lain untuk kegiatan jual beli. Pentingnya manfaat pengurangan bagi kehidupann siswa, sehingga pembelajaran pengurangan diupayakan keberhasilannya.
Salah satu faktor keberhasilan pembelajaran pengurangan di Sekolah Dasar adalah kemampuan guru untuk memilih, menguasai, dan menerapkan metode pembelajaran pengurangan. Metode disesuaikan dengan bahan pelajaran yang diajarkan, kondisi siswa, dan lingkungan pembelajaran. Selama ini, pembelajaran pengurangan di Sekolah Dasar menggunakan metode yang berpusat pada guru (teacher centered) seperti ceramah, tanya jawab, dan pemberian tugas. Sehingga banyak siswa Sekolah Dasar cepat bosan dengan pembelajaran pengurangan bahkan tertekan saat pembelajaran pengurangan berlangsung. Guru perlu melakukan inovasi metode pembelajaran pengurangan yang menyenangkan untuk siswa sehingga dapat meningkatkan prestasi pengurangan yang merupakan konsep dasar Matematika. Inovasi metode pembelajaran ceramah, tanya jawab, dan pemberian tugas menjadi metode pembelajaran bermain.
Metode pembelajaran bermain sangat disukai anak-anak pada umumnya. Apalagi pemanfaatan metode pembelajaran bermain dengan menggunakan macam-macam permainan tradisional . Saat ini, permainan tradisional sudah terpinggirkan karena kalah canggih dengan permainan modern. Padahal, permainan tradisional sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan jiwa, fisik, dan mental anak (Sisca, 2012: 173). Selain itu, permainan tradisional juga mengandung pesan moral dan nilai edukasi (Aachiyadi, 2006, Candra, diambil 20 Januari 2012). Salah satu permainan tradisional yang dapat dimanfaatkan sebagai metode pembelajaran yaitu permainan Gatheng.  
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan diatas maka makalah ini membahas  permainan tradisional gatheng sebagai metode pembelajaran pengurangan Sekolah Dasar.

B.  Permainan Tradisional
Menguatnya arus globalisasi di Indonesia membawa pola kehidupan dan hiburan baru yang mau tidak mau memberikan dampak tertentu terhadap kehidupan sosial dan budaya masyarakat Indonesia, termasuk di dalamnya kelestarian permainan tradisional anak-anak. Budisantoso, dkk (dalam Sukirman Dharmamulya dkk, 2008: 29)  mengatakan bahwa permainan tradisional anak merupakan unsur-unsur kebudayaan yang tidak dapat dianggap remeh, karena permainan tradisional memberikan pengaruh yang tidak kecil terhadap perkembangan  kejiwaan, sifat, dan kehidupan sosial di kemudian hari. Selain pengertian tersebut, masih ada perspektif tentang permainan tradisional yaitu perspektif fungsional, permainan, psikologis, adaptasi.

1.    Perspektif Fungsional: Bermain sebagai upaya mempersiapkan diri menjadi orang dewasa.
Pelopor teori fungsionalisme adalah Bronislaw Malinowski, ahli antropologi. Dia menyatakan bahwa permainan perlu diketahui nilai pendidikannya, dan lebih dari itu juga hubungannya dengan fungsinya untuk “preparation for economic skills”. Pembekalan keterampilan-keterampilan  ekonomi (Sukirman Dharmamulya dkk, 2008: 21). Berbagai permainan anak, misalnya “pasaran”, “dokter-dokteran”, “sekolah-sekolahan” dan sebagainya, yang biasa disebut “role play” (bermain peran), merupakan contoh dari permainan tradisional yang mempunyai fungsi mempersiapkan anak-anak untuk memainkan peran yang sebenarnya ketika mereka dewasa nanti.
George H. Mead (dalam Sukirman Dharmamulya dkk, 2008: 21)  meyatakan bahwa permainan seperti ini juga merupakan sebagian dari kondisi-kondisi yang memungkinkan si anak melakukan “objectivication the self”. Melalui kegiatan bermain anak-anak akan dapat membayangkan dirinya berada dalam berbagai kedudukan dan peran, dan dengan demikian anak-anak akan dapat membangun karakternya sebagai persiapan menjadi orang dewasa. Dalam bermain, seorang anak harus memperhatikan anak-anak lain yang berbeda perannya, tetapi berinteraksi dengannya.
2.    Perspektif Bermain: Bermain Sebagai Permainan.
Kajian tentan permainan anak dengan perspektif permainan  banyak dikerjakan oleh ahli folklor di akhir abad 19. Hasilnya lebih banyak bersifat deskriptif. Para ahli ini hanya menggambarkan jenis-jenis permainan yang ada dengan berbagai macam peralatannya, sedang proses sosial dari permainan itu sendiri banyak yang terlupakan. Para ahli juga beranggapan bahwa game (permainan) adalah wujud yang paling jelas dari bermain.
3.    Perspektif Psikologis: Bermain Sebagai Wujud Kecemasan dan Kemarahan
R.R Eiferman (dalam Sukirman Dharmamulya, 2008:24) mencoba mengetahui perbedaan sifat anak di desa dengan anak-anak di kota dengan memperhatikan permainan yang ada di kalangan mereka. Hipotesanya mengatakan bahwa anak-anak pedesaan memiliki lebih banyak kesempatan untuk terlibat dalam dunia orang dewasa dibandingkan dengan anak-anak kota. Hal tersebut berdampak anak-anak pedesaan tidak akan mengalami konflik yang begitu keras, sehingga mereka juga akan kurang tertarik pada “competitive games” yang dibangun atas dasar konflik, kecemasan, dan kemarahan.
4.    Perpesktif Adaptasi: Bermain Sebagai peningkatan Kemampuan Beradaptasi.
Ada dua teori yang berhubungan dengan adaptasi makhluk. Teori tersebut adalah teori arousal dan teori educational. Teaori arousal menjelaskan fenomena bermain adalam jangka pendek, sedangkan teori educational menjelaskan pemahaman bersifat jangka panjang. Dalam teori arousal dikatakan bahwa setiap anak pada dasarnya mempertahankan “an optimal level of arousal” dan ini berarti bahwa setiap anak menginginkan perubahan. Teori kedua, yaitu teori pendidikan, pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan pendekatan fungsional. Lancy (dalam Sukirman Dharmamulya, 2008: 26) menyatakan bahwa bermain dapat “serve as an educational medium to exercise and improve the young animal’s survival and reproductive skills”. Ternyata bermain bukanlah kegiatan yang tidak bermakna, terutama bagi anak-anak. Bermain adalah upaya membekali anak-anak dengan kemampuan tertentu agar dapat bertahan hidup dalam lingkungannya. Contoh permainan yang mengandung kemampuan adaptasi menurut teori pendidikan adalah permainan gatheng.

C.  Permainan Tradisional Gatheng
Permainan gatheng adalah permainan yang menggunakan watu (batu) sebagai alatnya. Batu tersebut disebut watu gatheng atau watu cantheng. Permainan gatheng mirip dengan permainan bekelan, sehingga banyak yang mengatakan permainan gatheng adalah permainan bekelan atau sebaliknya. Tempat untuk bermain gatheng di halaman rumah, dalam rumah, teras, atau pendapa.
Permainan gatheng merupakan permainan yang mudah, murah, sederhana dan tidak memakan waktu yang lama. Permainan ini bersifat kompetitif perorangan. Permainan ini menerapkan hukuman bagi yang kalah namun ada yang tidak menerapkan hukuman. Gatheng memerlukan kejujuran dan keterampilan para pemainnya.
Permainan ini sudah lama keberadaannya yaitu pada jaman Mataram (XVII). Putra raja waktu itu yaitu Raden Rangga memiliki alat bermain watu gatheng (batu gatheng) yang sangat besar. Batu gatheng tersebut kini tersimpan baik di Kotagede, Yogyakarta. Batu gatheng tersebut menunjukkan bahwa Raden Rangga adalah orang yang sakti. Kini permainan gatheng di desa menggunakan batu, sedangkan di kota menggunakan bekel dan kuningan.
Pemain gatheng berjumlah 2-5 orang anak. Permainan tersebut bersifat perorangan. Gatheng pada mulanya dimainkan oleh anak-anak perempuan, tapi sekarang dimainkan bersamaan antara anak laki-laki dan perempuan. Batu gatheng ditentukan oleh kesepakatan pemain. Ada lima, sepuluh, dan paling banyak adalah 20. Tempat permainan tidak begitu luas, namun cukup bagi lima orang anak.  Berikut ini adalah jalan permainan gatheng dengan empat pemain:
a.      Masing-masing peserta membawa dadu sendiri-sendiri. Dadu bisa dari batu yang diambil dari sekitar anak.
b.     Menyiapkan tempat serta kerikil sebanyak lima buah.
c.      Mengundi pemain pertama dengan hompipah.
d.     Pemain pertama menyebar lima buah kerikil ke arena permaianan sambil melemparkan dadunya ke atas. Pemain menyebar biji tersebut sampai biji tidak saling berdempetan.
e.      Kemudian pemain tersebut mengambil salah satu kerikil sambil melemparkan dadunya.
f.      Apabila kerikil tersebut tidak dapat diambil, pemain tidak boleh meneruskan bermain, mati. Begitu juga bila pemain tidak dapat menangkap kembali dadu yang dilemparkan ke atas, maka pemain tidak boleh meneruskan bermain digantikan oleh pemain lainnya. 
g.     Pemain kedua tersebut mengambil salah satu kerikil dari sambil melemparkan dadunya. Begitu seterusnya sampai kerikil habis terambil.
h.     Setelah kerikil habis, pemain kedua dapat melanjutkan level permainan gatheng yang disebut Garo. Garo adalah mengambil dua kerikil secara bersamaan sambil melempar dadunya.
i.       Setelah Garo selesai, pemain kedua melanjutkan dengan Galu. Galu adalah mengambil tiga kerikil secara bersamaan sambil melempar dadunya.
j.       Setelah Galu selesai, pemain kedua melanjutkan dengan Gapuk. Gapuk adalah mengambil empat kerikil yang telah disusun sedemikian rupa bersamaan sambil melempar dadunya.
k.     Begitu seterusnya sampai jumlah kerikil habis diambil bersamaan. Peraturan ini disepakati saat awal permainan. Ada yang hanya sampai Garo atau Galu.
l.       Setelah tahapan permainan selesai, pemain kedua tersebut mendapat sawah satu yang ditulis di tanah sekitar pemain kedua. Permainan dilanjutkan oleh pemain ketiga mulai dari tahap awal. Sedangkan apabila pemain pertama memainkan permainan, maka pemain tersebut meneruskan permainan saat mati, tidak memulai dari awal.
m.   Nggenjeng boleh dilakukan boleh tidak. Nggenjeng adalah hukuman bagi peserta yang paling sedikit mendapat sawah. Peserta kalah duduk slonjor (duduk dengan kaki lurus ke depan) dan mata tertutup. Kemudian pemain yang menang memukul pelan-pelan (gethok atau nggethok) lutut kiri pemain yang slonjor tadi dengan tangankirinya; sedangkan tangan kanannya menyembunyikan lima kerikil yang digunakan untuk bermain pada tempat tertentu yang sulit dicari oleh pemain yang kalah. Sewaktu memukul lutut, pemain yang mennyanyikan lagu genjeng dengan syair sebagai berikut :
Genjeng-genjeng,
Debog bosok jambe wangen,
Mur murtigung mur murtigung,
Walang kadung dening cekung,
Rondhe-rondhe,
Pira satak pira lawe,
Salawe aja na badhe,
Picak jengkol pira kiye,
Cakuthu cakuthu,
Badhoganmu tahu basu,
Aku dhewe carang madu.
Sewaktu sampai pada kalimat carang madu, tangan kanan yang kebetulan memegang kerikil diacungkan kepada yang kalah. Pemain yang kalah harus menebak jumlah kerikil yang digenggam tadi. Bila tebakan tidak tepat, maka hukuman dimulai dari para pemain lainnya diiringi dengann lagu yang sama. Apabila tebakan sudah tepat, permainan dapat dimulai dari awal.
Di daerah Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta sampai saat ini permainan tradisional masih memiliki penggemar. Sekarang gatheng dikenal dengan nama Bekelan. Alat permainan bekelan banyak dijual di toko mainan, sedangkan gatheng yang sesungguhnya hanya menggunakan kerikil yang dapat didapatkan di sekitar rumah.

D.  Metode Pembelajaran Matematika SD
Titik pusat pembelajaran adalah metode pembelajaran. Metode pembelajaran adalah salah satu unsur pembelajaran yang sangat penting. Eugene Ehrlich (dalam Fathurohman & Wuri Wuryandari, 2011: 30). Menurut Sagala, metode adalah cara yang digunakan oleh guru/ siswa dalam mengolah informasi yang berupa fakta, data, dan konsep pada proses pembelajaran yang mungkin terjadi dalam suatu strategi. Metode pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar adalah cara yang digunakan oleh guru dan siswa agar mencapai aspek yang ingin dicapai dalam pembelajaran Matematika. Guru sebagai sumber belajar Matematika berkewajiban menyediakan lingkungan belajar yang kreatif untuk kegiatan belajar siswa. 
Guru dalam memilih metode pembelajaran matematika dipengaruhi oleh faktor-faktor tertentu. Winarno Surakhmad (dalam Syaiful Bahri Djamarah & Aswan Zain, 2006: 78) mengungkapkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan dan penentuan metode pembelajaran, sebagai berikut:
1.    Anak didik
Anak didik atau siswa menjadi faktor yang sangat penting. Karakteristik siswa menjadi pertimbangan guru dalam memilih metode. Sebagai contoh: karakter siswa tidak bisa diam, maka guru sebaiknya tidak melakukan metode ceramah.
2.    Tujuan
Tujuan adalah sasaran yang akan dicapai dalam suatu pembelajaran. Metode adalah cara memperoleh tujuan. Maka pemilihan metode harus didasarkan pada tujuan agar tujuan tersebut dapat dicapai.
3.    Situasi
Situasi belajar siswa sebaiknya berbeda dari hari ke hari. Situasi yang sama akan membuat siswa bosan. Kebosanan tersebut bisa mengganggu semangat dan konsentrasi dalam belajar. Penggunaan metode yang tepat dan variatif sangat dibutuhkan guru untuk memodifikasi situasi belajar siswa.  
4.    Fasilitas
Fasilitas adalah kelengkapan yang menunjang pembelajaran siswa di sekolah. Ketersediaan fasilitas menunjang kegiatan pembelajaran dengan berbagai macam metode.
5.    Guru
Guru memiliki karakteristik mengajar yang berbeda-beda. Karakteristik tersebut mempengaruhi metode pembelajaran yang dilakukan. Guru yang senang bicara, lebih sering menggunakan metode bercerita. Berbeda dengan guru yang cenderung pendiam, lebih sering menggunakan metode tanya-jawab atau latihan. 
Metode pembelajaran matematika di Sekolah Dasar bermacam-macam sama seperti pada metode pembelajaran pada mata pelajaran lain. Metode tersebut antara lain ceramah, demonstrasi, tanya jawab, diskusi, pemecahan masalah dan inquiry. Namun, guru di Sekolah Dasar cenderung menggunakan metode ceramah untuk pembelajaran, termasuk pembelajaran pengurangan Matematika.

E.  Metode Pembelajaran Pengurangan SD
Banyak guru menggunakan metode ceramah untuk pembelajaran Matematika, termasuk pada saat pembelajaran pengurangan. Hal tersebut membuat hasil pembelajaran pengurangan pada siswa Sekolah Dasar kurang maksimal. Laporan hasil penelitian yang dilakukan oleh Suryanto dan Blazely (1997) terhadap 1200 siswa kelas I (yang baru lulus dari Sekolah Dasar) di 16 SLTP dari tiga provinsi sampel, yaitu Jawa Timur, Kalimantan Tengah, Sulawesi Selatan menyatakan bahwa prosentase hasil tes kemampuan pengurangan desimal yang menjawab benar hanya 29 % dan pengurangan bilangan biasa 69 % (Herry Sukarman, 2004, Fasilitator, diambil 21 Januari 2013).
Fakta tersebut mendorong para guru mengubah metode pembelajaran pengurangan di Sekolah Dasar. Perubahan metode pembelajaran pengurangan di Sekolah Dasar harusnya disesuaikan dengan gaya belajar anak. Gaya belajar secara umum dapat dibagi dalam tiga jenis beikut ini :
1.            Gaya belajar visual. Anak yang memiliki gaya belajar visual, belajar melalui melihat. Mereka senang melihat peragaan atau menonton video.
2.           Gaya belajar auditori. Anak yang memiliki gaya belajar auditori, belajar melalui mendengar. Mereka senang mendengarkan rekaman tape, ceramah/ kuliah, debat, diskusi, dan perintah-perintah lisan (verbal).
3.           Gaya belajar kinestetik. Anak yang memiliki gaya belajar kinestetik, belajar melalui kegiatan-kegiatan fisik yang melibatkan diri secara langsung. Mereka senang bergerak, berpartisipasi, menyentuh, dan mengalami sendiri (Tessie Setiabudi & Joshua Maruta, 2012: 68).
Untuk memenuhi gaya belajar siswa yang bermacam-macam, guru kelas dapat menggunakan metode permainan sebagai metode pembelajaran pengurangan. Dengan metode permainan, siswa dengan gaya belajar visual akan melihat peragaan pengurangan. Siswa dengan gaya belajar auditori akan mendengarkan instruksi dari guru dan keterangan dari guru tentang pengurangan. Sedangkan siswa dengan belajar kinestetik akan langsung memperagakan permainan tersebut. Permainan yang tepat saat pembelajaran pengurangan berlangsung adalah permainan gatheng, yaitu salah satu permainan tradisional di Pulau Jawa.

F.  Permainan Tradisional Gatheng Sebagai Metode Pembelajaran Pengurangan Sekolah Dasar.
Permainan tradisional gatheng sebagai metode pembelajaran dapat digunakan oleh guru saat mengenalkan konsep pengurangan pada kelas bawah. Selain memiliki kesesuiaan dengan gaya belajar anak, metode permainan tradisional sebagai metode pembelajaran juga sesuai dengan perkembangan intelektual siswa. Siswa pada kelas rendah Sekolah Dasar memiliki tahapan intelektual konkret (the concrete operational). Pada tahap ini siswa mulai dapat memahami logika secara stabil. Klaisifikasi anak pada tahap ini antara lain sebagai berikut :
1.            Siswa dapat membuat klalsifikasi sederhana, mengklasifikasikan objek berdasarkan sifat-sifat umum, misalnya warna, klasifikasi dan karakter tertentu.
2.           Siswa dapat membuat urutan sesuatu secara semestinya, misalnya mengurutkan angka.
3.           Siswa mulai dapat mengembangkan imajinasinya dan adanya perkembangan dari pola pikir egosentris menjadi lebih mudah untuk mengidentifikasi sesuatu dengan sudut pandang yang berbeda.
4.           Siswa mulai berpikir argumentatif dan dapat memecahkan masalah sederhana.
Dalam pembelajaran pengurangan guru tidak boleh hanya ceramah karena siswa berada dalam tahapan intelektual konkret. Contoh pembelajaran pengurangan pada Sekolah Dasar pada umumnya adalah sebagai berikut: 10 dikurangi 1 ada 9. Tunjukkan 10 jari tanganmu, masukkan 1 jari. Jadi jari yang berdiri ada 9. Jadi, sepuluh dikurangi satu ada sembilan.
Apabila guru hanya memberikan cara tersebut kepada siswa, siswa dapat mengalami kebosanan. Guru perlu merancang strategi untuk memudahkan siswa dalam konsep pengurangan dan siswa tidak bosan. Guru dapat mengemas pembelajaran dengan metode permainan gatheng.
Guru memberi contoh jalan permainan dan aturan permainan gatheng. Aturan permainan gatheng dalam pembelajaran pengurangan sama dengan permainan gatheng tradisional yaitu setelah mengambil satu-satu, diteruskan dengan garo, galu, dan gapuk. Setelah menjelaskan guru membagi siswa ke dalam rombongan berpasang-pasangan. Guru menyuruh siswa mengumpulkan alat permainan gatheng yaitu dadu untuk masing-masing siswa dan sepuluh kerikil. Siswa diberi kebebasan memilih tempat bermain, namun tidak boleh terlalu jauh dari kelas. Pada saat permainan berlangsung, guru mengawasi jalannya permainan gatheng yang dilakukan oleh siswa.
Saat permainan berlangsung, siswa secara tidak langsung sudah belajar pengurangan. Siswa mengambil salah satu kerikil atau du kerikil dari arena permainan, disini pengurangan terjadi. Contoh: 10 kerikil di arena permainan diambil 1 buah kerikil oleh siswa A, maka kerikil di arena permainan tinggal 9. 10 kerikil di arena permainan diambil 2 kerikil oleh siswa B, maka kerikil di arena permainan tinggal 8.
Setelah siswa melakukan permainan gatheng, guru membahas pengurangan bersama-sama dengan menggali pengalaman siswa melakukan permainan gatheng menggunakan kalimat interaktif. Contoh: “Apa yang kita lakukan baru saja ?”; “Siapa tadi yang menang?”; “Berapa jika 10 kerikil diambil 1 kerikil?”; “ Berapa hasilnya jika 10 kerikil diambil 2 kerikil?”. Siswa akan mengungkapkan pengalaman bermain dengan senang dan komunikatif.
Setelah itu, guru melakukan evaluasi siswa dengan menggunakan angka-angka yang ditemui saat bermain gatheng sebagai uji kompetensi siswa dalam pemahaman pengurangan. Guru dapat melakukan apresiasi atas keberhasilan pembelajaran pengurangan kepada siswa. Apreiasi terhadap keberhasilan siswa, dapat dilakukan dengan menggunakan kata-kata pujian dan tepuk tangan. Hukuman dalam metode pembelajaran pengurangan boleh dilakukan boleh tidak tergantung pada kebijaksanaan guru dan kesepakatan siswa.

G.  Penutup
1.  Simpulan
Berdasarkan uraian pada bab-bab terdahulu, berikut dirumuskan beberapa catatan sebagai simpulan.
a.      Penggunaan permainan tradsional dalam pembelajaran merupakan salah satu upaya untuk melestarikan permainan tradisional yang hampir hilang. Salah satu penggunaannya adalah dalam metode pembelajaran. Permainan tradisional yang memiliki banyak macam dapat dipilih dan disesuaikan dengan materi pelajaran pada mata pelajaran tertentu.
b.     Permainan tradisional memenuhi gaya belajar anak, baik gaya belajar visual, gaya belajar auditori, bahkan gaya belajar kinestetik.
c.      Salah satu contohnya adalah permainan tradisional gatheng sebagai metode pembelajaran pengurangan Sekolah Dasar. Gatheng adalah permainan tradisional dari Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Permainan tradisional gatheng menggunakan peralatan sederhana yaitu batu kerikil. Aturan dan jalannya permainan disepakati oleh para pemain.
d.     Aplikasi permainan gatheng kedalam metode pembelajaran pengurangan, diharapkan siswa tidak mengalami kebosanan dalam belajar pengurangan dan mendapatkan pembelajaran dengan proses yang menyenangkan.

2.  Saran
a.    Sekolah dan guru haruslah ikut serta dalam pelestarian permainan tradisional karena permainan tradisional melibatkan aspek-aspek kesiswaan yang sedang berkembang.
b.    Sebaiknya guru melakukan pembelajaran matematika yang menyanangkan dan tidak membuat siswa takut untuk belajar matematika.

Daftar Pustaka
Abdullah, Solichan. Hak Azasi Siswa Dalam Pembelajaran Matematika. Fasilitator, Edisi IV/       Tahun 2004, hal. 8.
Achiyadi. Permainan Tradisional Perlu Dilestarikan. Candra, Edisi V 2006, hal. 19.
Dharmamulya, Sukirman dkk. 2008. Permainan Tradisional Jawa Sebagai Upaya           Pelestarian. Yogyakarta: Kepel Press.
Djamarah, Syaiful Bahri & Zain, Aswan. 2006. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka      Cipta.
Fathurrohman & Wuryandari, Wuri. 2011. Pembelajaran PKn Di Sekolah Dasar.           Yogyakarta: Nuha Litera.
Kompas Klasika. Minggu, 20 Januari 2013. Serunya Matematika dan Bahasa Inggris.
Masrukan. Matematika dan Alat Peraga. Fasilitator, Edisi IV/ Tahun 2004, hal. 30.
Setiabudi, Tessie & Maruta, Joshua. 2012. Cerdas Mengajar Dampingi Anak Belajar dengan       13 Kiat Jitu. Jakarta: Gramedia.
Sisca. 2012. Aneka Permainan Outbond Untuk Kecerdasan & Kebugaran. Yogyakarta: Bintang Cemerlang.
Sukarman, Herry. Pengembangan dan Inovasi Pendidikan Matematika di Sekolah Dasar dan     Permasalahannya. Fasilitator, Edisi IV/ Tahun 2004, hal. 48. 

0 komentar:

Posting Komentar